Bab 1. Konsep dan Klasifikasi Media, Bahan Ajar, dan Sumber Belajar Akuntansi
Faisal R. Dongoran
Faisal R. Dongoran
Mengapa bab ini penting
Guru akuntansi jarang kekurangan bahan. Yang lebih sering terjadi adalah salah memilih. Video yang menarik belum tentu menolong siswa yang keliru menghitung penyesuaian, dan modul yang lengkap belum tentu memberi kesempatan berlatih.
Bab ini menyediakan kosakata dan dua cara mengelompokkan, sehingga setiap pilihan media dapat dijelaskan alasannya.
Di ruang guru, kata "media", "bahan ajar", dan "sumber belajar" sering dipakai bergantian. Dalam perancangan, ketiganya menunjuk hal yang berbeda. Membedakannya penting, karena setiap istilah menuntut pekerjaan yang berbeda dari seorang guru.
Sumber belajar
Sumber belajar adalah istilah yang paling luas, yaitu segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk belajar. Definisi teknologi pendidikan tahun 2008 menempatkan sumber sebagai sesuatu yang diciptakan, digunakan, dan dikelola untuk memfasilitasi belajar (Januszewski & Molenda, 2008).
Cakupannya lebar. Januszewski dan Molenda (2008) memasukkan sistem teknologi informasi, sumber di masyarakat seperti perpustakaan dan museum, orang yang memiliki keahlian khusus, media digital, serta media analog seperti buku dan rekaman video.
Bagi guru akuntansi, daftar itu sangat dekat dengan keseharian:
koperasi sekolah dan usaha kecil di sekitar sekolah;
pemilik usaha atau staf pembukuan yang bersedia menjadi narasumber;
bukti transaksi, seperti kuitansi, faktur, dan nota;
laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan;
buku teks, modul, dan video pembelajaran.
Media
Media adalah perantara yang membawa pesan dari sumber kepada penerima (Smaldino dkk., 2019). Papan tulis, video, dan lembar kerja elektronik adalah media selama dipakai untuk menyampaikan pesan pembelajaran.
Kata kuncinya adalah "selama dipakai". Sebuah benda disebut media karena perannya, bukan karena wujudnya. Proyektor yang menayangkan format jurnal sedang berperan sebagai media. Proyektor yang sama di dalam lemari hanyalah peralatan.
Bahan ajar
Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga peserta didik dapat belajar darinya (Prastowo, 2013). Kata kuncinya adalah disusun. Bahan ajar memiliki tujuan, urutan, dan latihan.
Karena disusun, bahan ajar selalu merupakan hasil kerja perancangan. Seseorang telah memutuskan apa yang dipelajari lebih dahulu, contoh mana yang ditampilkan, dan latihan apa yang dikerjakan. Modul jurnal penyesuaian adalah bahan ajar. Kumpulan soal tanpa tujuan dan tanpa urutan belum menjadi bahan ajar.
Hubungan ketiganya
Ketiga istilah ini tidak sejajar. Sumber belajar adalah payung terluas, sedangkan media dan bahan ajar berada di bawahnya. Semua media dan semua bahan ajar adalah sumber belajar, tetapi tidak semua media adalah bahan ajar.
Satu benda, lebih dari satu kedudukan
Kedudukan sebuah benda ditentukan oleh cara benda itu dipakai dan dirancang. Perhatikan perjalanan selembar kuitansi sewa:
Di laci bendahara, kuitansi itu adalah sumber belajar yang belum dimanfaatkan.
Ketika guru menayangkannya untuk menjelaskan sewa dibayar di muka, kuitansi itu berperan sebagai media.
Ketika kuitansi itu dimasukkan ke lembar kerja yang memuat tujuan, langkah, dan latihan, kuitansi itu menjadi bagian dari bahan ajar.
Hal yang sama berlaku pada video. Video contoh kerja adalah media. Video itu menjadi bahan ajar ketika dilengkapi tujuan, urutan belajar, dan latihan.
Tiga pertanyaan penguji
Tiga pertanyaan berikut adalah alat bantu penyusun untuk mengisi lembar klasifikasi.
Dapatkah benda ini dimanfaatkan untuk belajar? Bila ya, benda ini sumber belajar.
Apakah benda ini sedang dipakai untuk menyampaikan pesan pembelajaran? Bila ya, benda ini berperan sebagai media.
Apakah benda ini memuat tujuan, urutan, dan latihan? Bila ya, benda ini bahan ajar.
Satu benda dapat memperoleh jawaban "ya" lebih dari satu kali. Itu bukan kesalahan klasifikasi, melainkan tanda bahwa benda tersebut menempati lebih dari satu kedudukan.
Sumber belajar adalah bingkai terluas. Di dalamnya terdapat media dan bahan ajar yang saling beririsan. Video contoh kerja yang dilengkapi tujuan, urutan, dan latihan berada di daerah irisan. Kuitansi sewa dan laporan keuangan termasuk sumber belajar, tetapi berada di luar keduanya.
Subbab 1.1 menunjukkan bahwa sumber belajar adalah payung terluas. Payung itu dapat dipilah lagi menurut asal-usul isinya.
Enam jenis sumber belajar
Definisi teknologi pendidikan tahun 1977 menyebut enam jenis sumber belajar, yaitu pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan. Definisi itu juga menyebut bahwa sumber belajar dapat dirancang, dipilih, atau dimanfaatkan (Association for Educational Communications and Technology [AECT], 1977).
Dalam pembelajaran akuntansi, enam jenis itu dapat dicontohkan sebagai berikut:
pesan, misalnya konsep akrual dan aturan debit kredit;
orang, misalnya guru, pemilik usaha, dan staf pembukuan;
bahan, misalnya modul, video, dan bukti transaksi;
alat, misalnya komputer, proyektor, dan kalkulator;
teknik, misalnya simulasi dan studi kasus;
lingkungan, misalnya laboratorium akuntansi dan koperasi sekolah.
Dua kelompok menurut asal-usul
Dari rumusan tersebut, bab ini memakai dua kelompok.
Dirancang (by design): dibuat untuk pembelajaran. Contohnya modul siswa tentang jurnal penyesuaian, video contoh kerja, dan lembar kerja spreadsheet.
Dimanfaatkan (by utilization): tidak dibuat untuk pembelajaran, tetapi dipakai untuk belajar. Contohnya kuitansi sewa, faktur, atau laporan keuangan tahunan sebuah perusahaan.
Kekuatan dan keterbatasan
Sumber belajar yang dirancang memiliki urutan yang rapi dan sesuai dengan tujuan. Kelemahannya, pembuatannya memakan waktu, dan contohnya sering terasa terlalu bersih dibanding transaksi nyata.
Sumber belajar yang dimanfaatkan memiliki kekuatan sebaliknya. Dokumennya nyata, mudah diperoleh, dan memperlihatkan akuntansi sebagaimana dikerjakan di dunia usaha. Kelemahannya ada tiga:
dokumen itu tidak memiliki tujuan dan urutan belajar;
isinya dapat terlalu rumit bagi pemula;
dokumen itu dapat memuat data pribadi atau data usaha yang tidak boleh disebarkan.
Kedua kelompok tidak saling menggantikan. Guru yang baik memakai keduanya.
Dari dokumen autentik menjadi bahan ajar
Pembedaan ini berguna bagi guru akuntansi karena dokumen autentik tersedia melimpah. Dokumen itu baru bekerja sebagai bahan ajar setelah guru menambahkan petunjuk dan tugas. Tiga langkah berikut adalah prosedur kerja penyusun.
Pilih. Ambil dokumen yang memuat tepat informasi yang dibutuhkan tujuan pembelajaran.
Sesuaikan. Samarkan nama dan data pribadi, lalu sederhanakan bagian yang belum relevan. Ketentuan izin dan perlindungan data dibahas di Bab 6.
Lengkapi. Tambahkan petunjuk, pertanyaan pemandu, dan tugas.
Contoh: kuitansi sewa Laundry Bersih
Selembar kuitansi sewa hanya memuat tanggal, jumlah, dan jangka waktu. Dengan tiga tugas berikut, kuitansi itu berubah menjadi bahan belajar:
Tentukan tanggal mulai dan lama sewa dari kuitansi.
Hitung berapa bulan sewa yang sudah terpakai sampai 31 Desember.
Susun jurnal penyesuaiannya.
Kuitansi itu sendiri tidak berubah. Yang berubah adalah kedudukannya, dari sumber belajar yang dimanfaatkan menjadi bagian dari bahan ajar. Inilah contoh kedudukan ganda yang dibahas pada Subbab 1.1. Fungsi yang dipenuhinya, yaitu menyediakan data autentik, dibahas pada Subbab 1.4.
Cara pertama mengelompokkan media adalah melihat wujudnya. Bentuk menentukan tiga hal praktis, yaitu alat untuk membuatnya, perangkat untuk memakainya, dan indra yang dilibatkan siswa.
Enam kelompok media
Smaldino dkk. (2019) mengelompokkan media menjadi enam, yaitu teks, audio, visual, video, benda yang dapat dimanipulasi, dan orang. Dalam pembelajaran akuntansi, contohnya sebagai berikut:
teks, misalnya uraian tentang jurnal penyesuaian;
audio, misalnya rekaman penjelasan guru;
visual, misalnya bagan siklus akuntansi;
video, misalnya rekaman layar saat menyusun jurnal;
benda yang dapat dimanipulasi, misalnya kartu akun yang disusun siswa;
orang, misalnya pemilik usaha yang menjadi narasumber.
Lima bentuk yang dipakai mata kuliah ini
Mata kuliah ini meringkasnya menjadi lima bentuk yang dekat dengan praktik kelas akuntansi:
cetak, misalnya handout dan modul;
audio, misalnya rekaman penjelasan;
audio-visual, misalnya video contoh kerja;
interaktif digital, misalnya lembar kerja spreadsheet dengan umpan balik;
dokumen atau lingkungan autentik, misalnya bukti transaksi dan kunjungan ke unit usaha.
Lima bentuk ini adalah ringkasan penyusun, bukan klasifikasi baku dari pustaka.
Dari enam menjadi lima
Peringkasan itu mengikuti tiga keputusan penyusun.
Teks dan visual diam digabung menjadi cetak, karena pada bahan ajar akuntansi keduanya hampir selalu tampil bersama di satu halaman.
Benda yang dapat dimanipulasi diwakili interaktif digital, karena latihan akuntansi kini banyak dikerjakan pada lembar kerja elektronik.
Orang dan dokumen dunia usaha disatukan dalam dokumen atau lingkungan autentik, karena keduanya menghadirkan praktik akuntansi yang sesungguhnya.
Ciri tiap bentuk
Cetak. Dibaca dan dilihat tanpa gerak, baik di kertas maupun sebagai berkas untuk dicetak. Dapat dipakai tanpa listrik dan mudah dicoret, tetapi tidak dapat memperagakan urutan gerak.
Audio. Hanya suara. Ringan dan dapat didengar sambil mengerjakan hal lain, tetapi tidak cocok untuk materi yang menuntut siswa melihat angka.
Audio-visual. Gambar bergerak disertai suara. Mampu memperagakan langkah demi langkah, tetapi membutuhkan perangkat dan kuota.
Interaktif digital. Merespons masukan siswa. Memberi kesempatan berlatih dan memperoleh umpan balik, tetapi menuntut perangkat dan keterampilan dasar memakainya.
Dokumen atau lingkungan autentik. Berasal dari dunia usaha, bukan dari ruang kelas. Nyata dan meyakinkan, tetapi belum memiliki urutan belajar, seperti dibahas pada Subbab 1.2.
Cara menentukan bentuk
Lima pertanyaan berikut dijawab berurutan. Berhentilah pada jawaban "ya" yang pertama. Urutan ini adalah alat bantu penyusun untuk mengisi lembar klasifikasi.
Apakah benda ini berasal dari dunia usaha dan tidak dibuat untuk belajar? Bila ya, bentuknya dokumen atau lingkungan autentik.
Apakah benda ini merespons masukan siswa? Bila ya, bentuknya interaktif digital.
Apakah benda ini memuat gambar bergerak dengan suara? Bila ya, bentuknya audio-visual.
Apakah benda ini hanya berupa suara? Bila ya, bentuknya audio.
Bila semua jawaban "tidak", bentuknya cetak.
Sebagian benda berada di perbatasan. Modul yang dipindai menjadi PDF tetap berbentuk cetak, karena hanya dibaca. E-modul dengan tautan dan kuis berbentuk interaktif digital, karena merespons masukan.
Empat produk mata kuliah dan bentuknya
Produk 1, bahan ajar cetak dan e-modul: cetak dan interaktif digital.
Produk 2, infografik: cetak.
Produk 3, video pembelajaran: audio-visual.
Produk 4, interactive spreadsheet: interaktif digital.
Bentuk baru menjawab pertanyaan "apa wujudnya". Pertanyaan "untuk apa dipakai" dijawab pada Subbab 1.4.
Bentuk menjawab pertanyaan "apa wujudnya". Untuk memilih, pertanyaan yang lebih berguna adalah "untuk apa dipakai". Dua media dengan bentuk yang sama dapat mengerjakan hal yang sangat berbeda. Video yang memperagakan cara menjurnal dan video yang hanya membacakan definisi sama-sama berbentuk audio-visual, tetapi manfaatnya bagi siswa tidak sama.
Mata kuliah ini memakai empat fungsi kerja:
menyajikan materi, yaitu memperkenalkan konsep atau memperagakan langkah;
melatih prosedur, yaitu memberi kesempatan mengerjakan berulang;
memberi umpan balik, yaitu memberi tahu benar atau salah dan letak kesalahannya;
menyediakan data autentik, yaitu menghadirkan transaksi dan dokumen nyata.
menyajikan
materi
melatih prosedur
memberi umpan balik
menyediakan data autentik
Empat fungsi ini adalah kategori kerja penyusun.
Fungsi 1: menyajikan materi
Pertanyaan pemandu: apakah siswa memperoleh penjelasan atau melihat peragaan dari media ini?
Contoh: infografik siklus akuntansi, video contoh kerja, dan uraian pada modul.
Catatan: bagi pemula, peragaan langkah demi langkah lebih efektif daripada langsung diminta memecahkan soal (Sweller dkk., 2019).
Fungsi 2: melatih prosedur
Pertanyaan pemandu: apakah siswa mengerjakan sesuatu sendiri, lebih dari satu kali?
Contoh: lembar latihan jurnal dan lembar kerja spreadsheet dengan angka yang dapat diganti.
Catatan: media yang hanya ditonton atau dibaca tidak memenuhi fungsi ini, sebaik apa pun penyajiannya.
Fungsi 3: memberi umpan balik
Pertanyaan pemandu: apakah siswa mengetahui hasil kerjanya benar atau salah, dan di mana letak salahnya?
Contoh: kunci jawaban beralasan, kuis yang langsung menampilkan pembahasan, dan lembar kerja spreadsheet yang menandai jurnal tidak seimbang.
Catatan: makin kaya informasinya, makin besar pengaruh umpan balik terhadap hasil belajar (Wisniewski dkk., 2020). Hal ini dibahas lebih jauh di Bab 10.
Fungsi 4: menyediakan data autentik
Pertanyaan pemandu: apakah siswa bekerja dengan transaksi atau dokumen dari dunia usaha?
Contoh: kuitansi, faktur, rekening koran, dan laporan keuangan yang dipublikasikan.
Catatan: dokumen autentik perlu dipilih, disesuaikan, dan dilengkapi lebih dahulu, seperti dibahas pada Subbab 1.2.
Menentukan fungsi yang paling menonjol
Satu media dapat memenuhi lebih dari satu fungsi, tetapi biasanya ada satu fungsi yang paling menonjol. Fungsi itulah yang dicatat pada lembar klasifikasi.
Cara mengujinya: bayangkan satu fungsi dihilangkan. Bila media itu kehilangan alasan keberadaannya, fungsi tersebut adalah fungsi utamanya. Lembar kerja spreadsheet tanpa pengecekan otomatis tinggal menjadi kertas kerja biasa. Karena itu fungsi utamanya adalah memberi umpan balik.
Contoh klasifikasi
Enam contoh berikut memadukan bentuk dari Subbab 1.3 dengan fungsi utama.
Handout berisi definisi akun: cetak, menyajikan materi.
Rekaman audio penjelasan konsep akrual: audio, menyajikan materi.
Video rekaman layar saat menyusun jurnal: audio-visual, menyajikan materi.
Lembar berisi 20 soal jurnal tanpa kunci: cetak, melatih prosedur.
Kuis daring yang langsung menampilkan pembahasan: interaktif digital, memberi umpan balik.
Faktur dari sebuah toko: dokumen autentik, menyediakan data autentik.
Tiga kekeliruan yang sering terjadi
Menyamakan bentuk yang canggih dengan fungsi yang lengkap. Video beranimasi tetap hanya menyajikan bila siswa tidak diminta mengerjakan apa pun.
Menumpuk media penyaji. Paket berisi buku, salindia, dan video dapat tampak lengkap, padahal ketiganya menjalankan fungsi yang sama.
Melatih tanpa umpan balik. Soal yang banyak tidak menolong bila siswa tidak tahu jawabannya benar atau salah.
Memeriksa satu paket
Paket media yang baik menutup keempat fungsi. Empat produk mata kuliah ini dirancang untuk itu. Infografik dan video menyajikan materi. Modul menyajikan dan melatih. Lembar kerja spreadsheet melatih dan memberi umpan balik. Dokumen transaksi di dalam modul dan lembar kerja menyediakan data autentik.
Fungsi mana yang paling dibutuhkan bergantung pada sifat materinya. Hal itu dibahas pada Subbab 1.5.
Subbab 1.4 menutup dengan satu pertanyaan: fungsi media mana yang paling dibutuhkan? Jawabannya bergantung pada sifat materi yang diajarkan. Tiga sifat berikut adalah hasil analisis penyusun terhadap materi akuntansi sekolah menengah.
Sifat 1: prosedural
Jurnal, posting, dan neraca saldo dikerjakan dengan langkah berurutan. Urutan itu tidak dapat ditukar. Pada penyesuaian sewa Laundry Bersih, misalnya, siswa harus menempuh empat langkah:
membaca data, yaitu sewa Rp12.000.000 untuk 12 bulan sejak 1 Oktober;
menghitung bagian yang terpakai, yaitu 3 bulan atau Rp3.000.000;
menyusun jurnal penyesuaian;
mengecek saldo akhir Sewa Dibayar di Muka, yaitu Rp9.000.000.
Kesalahan yang khas pada materi prosedural adalah melompati langkah. Siswa langsung menjurnal tanpa menghitung lebih dahulu.
Materi seperti ini terbantu oleh contoh kerja bertahap, yaitu contoh yang memperlihatkan setiap langkah penyelesaian. Bagi pemelajar pemula, mempelajari contoh kerja lebih efektif daripada langsung memecahkan soal (Sweller dkk., 2019). Bantuan itu kemudian dikurangi seiring bertambahnya kemahiran siswa (Sweller dkk., 2019).
Implikasinya, materi prosedural paling membutuhkan media yang memperagakan langkah dan media yang melatih.
Sifat 2: berjenjang
Kesalahan pada jurnal terbawa ke buku besar, neraca saldo, dan laporan keuangan. Banyak unsur harus diolah bersamaan, sehingga beban pada memori kerja tinggi (Sweller dkk., 2019).
Perhatikan satu kesalahan pada kasus Laundry Bersih. Seorang siswa menjurnal seluruh sewa Rp12.000.000 sebagai beban, padahal yang terpakai hanya Rp3.000.000. Akibatnya menjalar:
Beban Sewa tercatat Rp9.000.000 terlalu besar;
saldo Sewa Dibayar di Muka menjadi nol, padahal seharusnya Rp9.000.000;
laba pada laporan laba rugi menjadi Rp9.000.000 terlalu kecil.
Kesalahan ini tidak tertangkap oleh neraca saldo, karena jumlah debit dan kredit tetap sama. Artinya, mengecek keseimbangan di akhir saja tidak cukup.
Implikasinya, materi berjenjang paling membutuhkan media yang memberi umpan balik di setiap tahap, bukan hanya di ujung.
Sifat 3: berbasis siklus
Siklus akuntansi adalah proses langkah demi langkah untuk mencatat kegiatan usaha agar catatan keuangan selalu mutakhir (Franklin dkk., 2019, Subbab 3.3). Sumber itu menguraikannya menjadi sepuluh langkah:
mengidentifikasi dan menganalisis transaksi;
mencatat transaksi ke jurnal;
memindahkan isi jurnal ke buku besar;
menyusun neraca saldo sebelum penyesuaian;
membuat jurnal penyesuaian;
menyusun neraca saldo setelah penyesuaian;
menyusun laporan keuangan;
membuat jurnal penutup;
menyusun neraca saldo setelah penutupan;
membuat jurnal pembalik, yang bersifat opsional.
Padanan bahasa Indonesia di atas adalah terjemahan penyusun.
Setiap langkah baru bermakna bila siswa melihat kedudukannya dalam siklus. Jurnal penyesuaian, misalnya, adalah langkah kelima. Siswa yang tidak melihat letaknya sering bertanya mengapa penyesuaian dikerjakan setelah neraca saldo. Uraian proses penyesuaian dapat dibaca pada Franklin dkk. (2019, Bab 4).
Implikasinya, materi berbasis siklus membutuhkan visual alur yang selalu dapat dirujuk, misalnya infografik siklus yang dipasang di setiap bahan.
Langkah pertama siklus juga memberi tempat bagi fungsi keempat. Transaksi yang dianalisis siswa sebaiknya berasal dari bukti transaksi, sehingga media yang menyediakan data autentik bekerja sejak awal siklus.
Ringkasan: dari sifat ke fungsi
Prosedural: perlu peragaan dan latihan, misalnya video contoh kerja dan lembar latihan.
Berjenjang: perlu umpan balik di setiap tahap, misalnya lembar kerja spreadsheet dengan pengecekan.
Berbasis siklus: perlu peta alur, misalnya infografik siklus.
Tiga pertanyaan untuk menganalisis topik
Sebelum memilih media untuk suatu topik, ajukan tiga pertanyaan berikut. Ketiganya adalah alat bantu penyusun.
Langkah apa saja yang harus ditempuh siswa, dan langkah mana yang paling sering dilompati?
Bila siswa salah di satu langkah, sampai ke mana kesalahan itu terbawa?
Di langkah keberapa topik ini berada dalam siklus akuntansi?
Jawaban atas tiga pertanyaan itu menjadi bahan design brief di Bab 4.
Contoh berjalan: Laundry Bersih
Laundry Bersih membayar sewa ruko Rp12.000.000 untuk 12 bulan pada 1 Oktober. Pada 31 Desember, sewa yang sudah terpakai adalah 3 bulan, yaitu 3 × Rp1.000.000 = Rp3.000.000. Jurnal penyesuaiannya:
Beban Sewa (Debit) Rp3.000.000
Sewa Dibayar di Muka (Kredit) Rp3.000.000
Satu topik ini membutuhkan beberapa media dengan fungsi berbeda:
Infografik siklus menyajikan kedudukan penyesuaian di antara neraca saldo dan laporan keuangan.
Video contoh kerja memperagakan cara menghitung 3 bulan dan menyusun jurnalnya.
Lembar kerja spreadsheet melatih penyesuaian dengan angka berbeda dan memberi umpan balik.
Kuitansi sewa menyediakan data autentik berupa tanggal dan jumlah pembayaran.
Modul siswa menghimpun semuanya dengan tujuan, urutan, dan latihan berjenjang.
Rangkuman
Sumber belajar mencakup media dan bahan ajar. Bahan ajar selalu disusun secara sistematis.
Kedudukan sebuah benda ditentukan oleh cara benda itu dipakai dan dirancang, sehingga satu benda dapat menempati lebih dari satu kedudukan.
Sumber belajar ada yang dirancang dan ada yang dimanfaatkan. Dokumen autentik perlu dipilih, disesuaikan, dan dilengkapi sebelum menjadi bahan ajar.
Bentuk menjawab wujud media. Fungsi menjawab kegunaannya. Paket media yang baik menutup keempat fungsi.
Sifat prosedural, berjenjang, dan berbasis siklus menentukan fungsi media yang dibutuhkan.
Bacaan lanjut
Franklin dkk. (2019), Subbab 3.3, untuk sepuluh langkah siklus akuntansi.
Teks tautan: Buka Subbab 3.3 di OpenStax
Alamat: https://openstax.org/books/principles-financial-accounting/pages/3-3-define-and-describe-the-initial-steps-in-the-accounting-cycle
Franklin dkk. (2019), Bab 4, untuk proses penyesuaian.
Teks tautan: Buka buku OpenStax
Alamat: https://openstax.org/books/principles-financial-accounting/pages/1-why-it-matters
Sweller dkk. (2019), bagian tentang contoh kerja.
Teks tautan: Buka artikel Sweller dkk.
Alamat: https://doi.org/10.1007/s10648-019-09465-5
Wisniewski dkk. (2020), untuk pengaruh umpan balik terhadap hasil belajar.
Teks tautan: Buka artikel Wisniewski dkk.
Alamat: https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.03087
Pribadi dan Putri (2019), untuk pengembangan bahan ajar.
Association for Educational Communications and Technology. (1977). The definition of educational technology.
Franklin, M., Graybeal, P., & Cooper, D. (2019). Principles of accounting, volume 1: Financial accounting. OpenStax. https://openstax.org/books/principles-financial-accounting/pages/1-why-it-matters
Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
Prastowo, A. (2013). Panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif. Diva Press.
Pribadi, R. B. A., & Putri, D. A. P. (2019). Pengembangan bahan ajar (Ed. 2). Universitas Terbuka.
Smaldino, S. E., Lowther, D. L., & Mims, C. (2019). Instructional technology and media for learning (12th ed.). Pearson.
Sweller, J., van Merriënboer, J. J. G., & Paas, F. (2019). Cognitive architecture and instructional design: 20 years later. Educational Psychology Review, 31(2), 261–292. https://doi.org/10.1007/s10648-019-09465-5
Wisniewski, B., Zierer, K., & Hattie, J. (2020). The power of feedback revisited: A meta-analysis of educational feedback research. Frontiers in Psychology, 10, Article 3087. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.03087