Bab 9. Video Pembelajaran II: Produksi, Penyuntingan, dan dan Takarir
Faisal R. Dongoran
Faisal R. Dongoran
Mengapa bab ini penting
Produksi yang rapi membuat siswa memperhatikan isi, bukan gangguan teknis. Takarir membuat video dapat dipakai siswa dengan hambatan pendengaran dan siswa yang belajar tanpa suara.
Sebagian besar masalah pada video pembelajaran bersifat teknis dan dapat dicegah sebelum merekam, misalnya suara bergema, notifikasi muncul di layar, atau angka terlalu kecil. Persiapan sepuluh menit dapat menghemat satu jam merekam ulang.
Empat langkah persiapan
Langkah berikut adalah ketentuan kerja mata kuliah.
Buka storyboard dan berkas yang akan direkam. Storyboard diletakkan di layar kedua atau dicetak, sehingga narator tidak perlu berpindah jendela saat merekam.
Tutup jendela dan notifikasi yang tidak perlu. Notifikasi pesan yang muncul di tengah rekaman mengganggu siswa dan dapat membuka data pribadi.
Perbesar tampilan sampai angka terbaca di layar ponsel. Profil peserta didik pada design brief menentukan ukuran ini. Bila siswa menonton di ponsel, layar laptop yang terbaca jelas belum tentu terbaca di ponsel.
Lakukan uji rekam singkat untuk memeriksa suara. Rekam satu kalimat narasi, lalu dengarkan dengan penyuara telinga.
Studio tidak diperlukan
Studio mahal tidak diperlukan. Guo dkk. (2014) menemukan bahwa rekaman di suasana informal tidak kalah menarik dibanding produksi studio berbiaya besar. Bagi tim mahasiswa, temuan ini berarti dana dan waktu lebih baik dipakai untuk naskah dan pemeriksaan isi.
Daftar periksa ruang dan perangkat
Daftar berikut adalah alat bantu penyusun.
Ruang yang tenang dan tidak bergema, misalnya ruang kecil dengan tirai atau lemari pakaian.
Kipas angin dan pendingin ruangan dimatikan selama merekam bila suaranya terdengar.
Mikrofon penyuara telinga atau mikrofon eksternal sederhana, diletakkan dekat mulut.
Baterai laptop atau ponsel cukup, dan mode jangan ganggu dinyalakan.
Berkas latihan dibuat salinannya, sehingga isian contoh dapat diulang dari awal.
GAMBAR 9.1 Menyiapkan meja rekam
Ilustrasi meja rekam sederhana dengan empat penanda persiapan. Uraian lengkap ada di bawah gambar.
Sebuah laptop menampilkan format jurnal yang diperbesar. Di sampingnya ada storyboard tercetak dan mikrofon kecil yang dekat dengan posisi narator. Empat penanda menunjuk storyboard, ikon notifikasi yang dicoret, tampilan yang diperbesar, dan mikrofon untuk uji rekam.
Storyboard sudah memutuskan apa yang dilihat dan didengar siswa. Tugas perekaman adalah mewujudkan keputusan itu dengan sesedikit mungkin gangguan.
Tiga kaidah perekaman
Rekam per segmen sesuai storyboard, sehingga kesalahan cukup diulang pada segmen itu saja.
Pakai kursor sebagai penunjuk. Gerakkan kursor perlahan ke sel yang sedang dijelaskan, lalu diamkan.
Rekam di ruang yang tenang dengan mikrofon dekat mulut.
Suara dan gambar saling melengkapi
Suara dan gambar sebaiknya saling melengkapi, bukan saling mengulang (Brame, 2016). Narasi menjelaskan alasan, sedangkan layar memperlihatkan langkahnya. Ini adalah penerapan prinsip modalitas dan redundansi dari Bab 2.
Contoh penyusun pada adegan 2.2:
Layar memperlihatkan baris Beban Sewa disorot dan angka Rp3.000.000 diketik.
Narasi menjelaskan alasannya: "Tiga bulan sewa sudah kita pakai, jadi bagian itu sekarang menjadi beban."
Narasi tidak perlu membacakan "Beban Sewa, debit, tiga juta" karena siswa sudah melihatnya di layar.
Kebiasaan kerja saat merekam
Kebiasaan berikut adalah elaborasi penyusun.
Beri jeda dua sampai tiga detik di awal dan akhir setiap rekaman. Jeda ini memudahkan pemotongan saat menyunting.
Bila salah ucap, berhenti, diam sebentar, lalu ulangi kalimat dari awal. Jangan memperbaiki di tengah kalimat. Bagian yang salah dipotong saat penyuntingan.
Beri nama berkas yang konsisten, misalnya "S2_adegan2-2_v1", yaitu segmen, adegan, dan versi. Nama ini memudahkan penyunting menemukan rekaman yang tepat.
Catat rekaman yang dipakai pada storyboard, misalnya dengan memberi tanda pada versi yang terbaik.
Rekaman suara terpisah
Bila suara rekaman layar kurang jernih, narasi dapat direkam terpisah lalu digabungkan saat penyuntingan. Cara ini juga elaborasi penyusun. Konsekuensinya, penyunting harus memastikan narasi tetap muncul bersamaan dengan visualnya, sesuai prinsip kedekatan waktu.
GAMBAR 9.2 Merekam per segmen
Diagram yang membandingkan merekam satu kali penuh dengan merekam per segmen. Uraian lengkap ada di bawah gambar.
Baris atas menunjukkan satu rekaman panjang dengan satu kesalahan di tengah, sehingga seluruh rekaman diulang. Baris bawah menunjukkan lima rekaman terpisah, yaitu pembuka, segmen 1, segmen 2, segmen 3, dan penutup. Kesalahan ada pada segmen 2, sehingga hanya segmen 2 yang diulang.
Penyuntingan mengubah kumpulan rekaman menjadi satu video yang utuh. Tujuannya bukan memperindah, melainkan membuat perhatian siswa tertuju pada langkah akuntansi.
Tiga pekerjaan penyuntingan
Penyuntingan mengerjakan tiga hal yang dianjurkan Brame (2016):
membuang jeda, pengulangan, musik, dan latar yang ramai;
memberi sinyal berupa sorotan, panah, atau teks kunci pada bagian yang dijelaskan;
memecah video dengan judul segmen.
Cara mengerjakan tiap pekerjaan
Uraian berikut adalah elaborasi penyusun.
Membuang. Potong jeda panjang, salah ucap, dan pengulangan. Jangan memotong jeda singkat setelah angka penting, karena siswa memerlukan waktu untuk melihatnya.
Memberi sinyal. Tambahkan sorotan pada sel atau baris yang sedang dijelaskan, tepat saat narasi menyebutnya. Satu sinyal untuk satu hal sudah cukup. Sorotan, panah, dan teks berkedip sekaligus justru menjadi gangguan.
Memecah. Sisipkan judul segmen beberapa detik di awal setiap segmen, sama dengan adegan 2.1 pada storyboard.
Kerapian teknis
Volume disamakan antarsegmen, sehingga siswa tidak perlu mengubah volume di tengah video.
Teks layar memakai jenis huruf, ukuran, dan warna yang sama di seluruh video, sesuai prinsip konsistensi pada Bab 7.
Teks layar memenuhi kontras minimal yang sama dengan infografik.
Mencatat perubahan dari storyboard
Setiap perubahan dari storyboard dicatat beserta alasannya, karena kesesuaian dengan storyboard dinilai pada Rubrik R-7. Catatan perubahan memuat tiga unsur, yaitu adegan, perubahan, dan alasan. Pola ini adalah rancangan penyusun.
Contoh penyusun:
Adegan: 2.4 dan 2.5.
Perubahan: adegan 2.4 diperpanjang dari 30 menjadi 35 detik, sedangkan adegan 2.5 dipendekkan dari 20 menjadi 15 detik.
Alasan: pada uji tonton, sorotan kolom debit dan kredit terlalu cepat untuk diikuti. Durasi segmen 2 tetap 110 detik.
GAMBAR 9.3 Sebelum dan sesudah penyuntingan
Perbandingan dua cuplikan layar video, sebelum dan sesudah disunting. Uraian lengkap ada di bawah gambar.
Cuplikan sebelum menampilkan format jurnal tanpa sorotan, ikon musik, dan latar bermotif. Cuplikan sesudah menampilkan latar polos, judul segmen di pojok atas, baris debit disorot oranye, dan ikon musik dicoret.
Takarir membuat video dapat dipakai siswa dengan hambatan pendengaran. Takarir juga membantu siswa yang menonton tanpa suara, misalnya di tempat umum, dan siswa yang ingin memastikan ejaan nama akun.
Pengertian dan ketentuan
Takarir adalah versi teks dari ucapan dan informasi bunyi lain yang diperlukan untuk memahami isi, yang ditampilkan selaras dengan audio (W3C Web Accessibility Initiative, 2024). WCAG 2.2 mensyaratkan takarir untuk media rekaman yang bersuara (kriteria 1.2.2, tingkat A).
Takarir berbeda dari teks layar. Teks layar adalah bagian dari visual yang dirancang pada storyboard, misalnya "3 bulan = Rp3.000.000". Takarir memuat seluruh ucapan narator dan dapat dinyalakan atau dimatikan oleh penonton.
Takarir otomatis wajib disunting
Takarir otomatis tidak memenuhi kebutuhan pengguna kecuali sudah dipastikan akurat, dan biasanya memerlukan banyak penyuntingan (W3C Web Accessibility Initiative, 2024). Pada video akuntansi, kesalahan paling sering terjadi pada nama akun dan angka. Satu angka yang salah pada takarir dapat membuat siswa mencatat jurnal yang salah.
Tiga langkah menyusun takarir
Langkah berikut adalah ketentuan kerja mata kuliah.
Susun dari naskah. Naskah sudah memuat ucapan narator, sehingga teks takarir tidak perlu diketik ulang dari awal. Sesuaikan dengan ucapan yang benar-benar direkam, karena narator kadang mengubah sedikit kalimatnya.
Sinkronkan. Setiap potongan takarir muncul bersamaan dengan ucapannya.
Periksa ejaan, nama akun, dan angkanya. Cocokkan nama akun dengan glosarium tim, dan cocokkan angka dengan storyboard.
Kaidah penulisan takarir
Kaidah berikut adalah ketentuan penyusun untuk Produk 3.
Nama akun ditulis dengan huruf kapital di awal kata, sama dengan glosarium, misalnya "Sewa Dibayar di Muka".
Nominal ditulis dengan format angka yang sama dengan teks layar, misalnya "Rp3.000.000", walaupun narator mengucapkannya dengan kata.
Satu tampilan takarir paling banyak dua baris, dan potongan dibuat pada batas frasa, bukan di tengah nama akun.
Bunyi penting selain ucapan ditulis dalam kurung siku, misalnya "[jeda]" bila jeda itu disengaja untuk memberi waktu siswa mencoba.
Memasang takarir
Cara memasang takarir bergantung pada aplikasi penyunting atau platform video yang dipakai. Umumnya takarir dapat ditanam langsung pada video, atau diunggah sebagai berkas takarir terpisah pada platform video. Nama menu pada tiap platform belum saya periksa, sehingga tidak saya tuliskan.
GAMBAR 9.4 Takarir otomatis dan takarir yang sudah diperiksa
Perbandingan takarir otomatis yang keliru dengan takarir yang sudah diperiksa pada cuplikan video yang sama. Uraian lengkap ada di bawah gambar.
Cuplikan atas menampilkan takarir otomatis bertuliskan sewa dibayar dimuka 300.000, dengan tanda silang. Cuplikan bawah menampilkan takarir yang sudah diperiksa bertuliskan Sewa Dibayar di Muka Rp3.000.000, dengan tanda centang.
Video yang sudah disunting belum tentu siap dipakai. Pemeriksaan akhir dilakukan dengan menonton video dari awal sampai akhir, seperti siswa akan menontonnya.
Daftar periksa sebelum unggah
Sebelum diunggah, tim menonton video dari awal sampai akhir dengan daftar periksa berikut.
Jurnal dan perhitungan benar.
Durasi 5 s.d. 8 menit.
Angka terbaca pada layar ponsel.
Takarir lengkap dan sinkron.
Tidak ada musik selama narasi.
Atribusi dan deklarasi AI tercantum pada deskripsi.
Cara memakai daftar periksa
Cara berikut adalah elaborasi penyusun.
Butir 1 diperiksa oleh anggota yang tidak merekam. Pembuat cenderung melihat apa yang ia maksud, bukan apa yang tampak.
Butir 3 diperiksa langsung di ponsel, bukan di layar laptop yang diperkecil.
Butir 4 diperiksa dengan suara dimatikan. Bila video dapat diikuti hanya dengan takarir, butir ini terpenuhi.
Setiap butir yang tidak lolos dicatat beserta perbaikannya, dengan pola yang sama seperti catatan perubahan pada Subbab 9.3.
Publikasi
Video diekspor sebagai MP4 atau dibagikan melalui tautan, lalu disematkan pada e-modul. Google Sites menyediakan sematan video YouTube dan berkas dari Google Drive. Dua hal perlu diperhatikan sebelum menyematkan.
Akses berbagi. Berkas Drive dengan akses terbatas hanya terlihat oleh orang yang memiliki akses. Atur akses sebelum halaman diterbitkan.
Deskripsi video. Deskripsi memuat judul, tujuan pembelajaran, atribusi aset, dan deklarasi penggunaan AI, sesuai Bab 6.
Contoh berjalan: uji tonton video Laundry Bersih
Pada uji tonton video penyesuaian sewa, tim menemukan tiga hal.
Butir 4, takarir. Takarir otomatis menulis "sewa dibayar dimuka 300.000". Perbaikan: "Sewa Dibayar di Muka Rp3.000.000".
Butir 3, keterbacaan. Angka pada format jurnal terlalu kecil di ponsel. Perbaikan: segmen 2 direkam ulang dengan tampilan diperbesar.
Butir 5, musik. Musik pembuka masih terdengar saat narasi dimulai. Perbaikan: musik dipotong sebelum narasi.
Temuan pertama menunjukkan mengapa takarir otomatis wajib disunting. Kesalahan "300.000" bukan sekadar salah ketik, tetapi mengubah nominal jurnal menjadi sepersepuluhnya.
Temuan kedua menunjukkan manfaat merekam per segmen: hanya segmen 2 yang perlu direkam ulang.
GAMBAR 9.5 Daftar periksa sebelum unggah
Kartu daftar periksa enam butir sebelum mengunggah video pembelajaran.
Enam butir berurutan dengan kotak centang, yaitu jurnal dan perhitungan benar, durasi 5 sampai 8 menit, angka terbaca di ponsel, takarir lengkap dan sinkron, tanpa musik selama narasi, serta atribusi dan deklarasi AI pada deskripsi.
Brame, C. J. (2016). Effective educational videos: Principles and guidelines for maximizing student learning from video content. CBE—Life Sciences Education, 15(4), Essay 6. https://doi.org/10.1187/cbe.16-03-0125
Campbell, A., Adams, C., Montgomery, R. B., Cooper, M., & Kirkpatrick, A. (Eds.). (2024). Web Content Accessibility Guidelines (WCAG) 2.2 (W3C Recommendation). World Wide Web Consortium. https://www.w3.org/TR/WCAG22/
Guo, P. J., Kim, J., & Rubin, R. (2014). How video production affects student engagement: An empirical study of MOOC videos. In Proceedings of the first ACM conference on Learning @ Scale conference (pp. 41–50). Association for Computing Machinery. https://doi.org/10.1145/2556325.2566239
Noetel, M., Griffith, S., Delaney, O., Sanders, T., Parker, P., del Pozo Cruz, B., & Lonsdale, C. (2021). Video improves learning in higher education: A systematic review. Review of Educational Research, 91(2), 204–236. https://doi.org/10.3102/0034654321990713
W3C Web Accessibility Initiative. (2024, September 17). Making audio and video media accessible. https://www.w3.org/WAI/media/av/