Bab 5. Bahan Ajar Cetak: Handout dan Modul Siswa
Faisal R. Dongoran
Faisal R. Dongoran
Mengapa bab ini penting
Bahan ajar cetak tetap menjadi rujukan utama siswa ketika perangkat dan jaringan terbatas. Mutunya ditentukan oleh contoh kerja yang benar dan latihan yang bertingkat, bukan oleh tebalnya.
Bahan ajar cetak tetap menjadi rujukan utama siswa ketika perangkat dan jaringan terbatas. Dua bentuk yang paling sering dipakai guru akuntansi adalah handout dan modul. Keduanya sering dianggap sama, padahal dirancang untuk situasi yang berbeda.
Handout
Handout adalah bahan ringkas pendamping tatap muka. Handout mengandaikan guru hadir untuk menjelaskan. Isinya biasanya ringkasan konsep, satu contoh, dan ruang untuk catatan siswa.
Modul
Modul dirancang agar dapat dipelajari mandiri (Prastowo, 2013). Karena modul menggantikan sebagian peran guru, petunjuknya harus tertulis: apa yang dipelajari, berapa lama, apa yang dikerjakan, dan bagaimana siswa mengetahui jawabannya benar.
Lima pembeda
Lima pembeda berikut adalah rangkuman penyusun.
Pemakaian. Handout dipakai bersama guru. Modul dipakai tanpa guru.
Petunjuk. Handout cukup dengan judul dan ringkasan. Modul memuat petunjuk tertulis yang lengkap.
Contoh. Handout memuat satu contoh untuk dibahas di kelas. Modul memuat beberapa contoh kerja bertahap.
Latihan dan kunci. Handout boleh tanpa kunci, karena guru membahasnya. Modul wajib memuat kunci beserta alasannya.
Panjang. Handout biasanya satu sampai dua halaman. Modul lebih panjang karena memuat semua yang dibutuhkan untuk belajar sendiri.
GAMBAR 5.1 Handout dan modul berdampingan
Perbandingan sampul dan isi handout dengan modul jurnal penyesuaian. Uraian lengkap ada pada daftar di atas gambar.
Handout dua halaman memuat ringkasan konsep, satu contoh, dan ruang catatan. Modul yang lebih tebal memuat petunjuk penggunaan, tujuan, uraian, contoh kerja, latihan, rangkuman, serta kunci dan umpan balik.
Kapan memilih yang mana
Pilih handout bila tujuannya memperkuat penjelasan guru di kelas, misalnya ringkasan aturan debit kredit untuk satu pertemuan.
Pilih modul bila siswa perlu belajar atau mengulang tanpa guru, misalnya saat tidak hadir atau saat persiapan ulangan.
Profil peserta didik pada design brief (Bab 4) membantu keputusan ini. Bila siswa jarang belajar di rumah, modul tetap dibutuhkan untuk dipakai mandiri di kelas.
Dua kekeliruan yang sering terjadi
Modul yang hanya salinan buku teks. Uraiannya lengkap, tetapi tanpa petunjuk, contoh bertahap, dan kunci. Siswa tetap membutuhkan guru untuk memakainya.
Handout yang hanya salindia dicetak. Isinya potongan kalimat tanpa contoh, sehingga sulit dipahami setelah pertemuan selesai.
Produk 1 mensyaratkan enam komponen. Susunan ini adalah ketentuan mata kuliah. Sebelum keenam komponen, modul dibuka dengan petunjuk penggunaan seperti dijelaskan pada Subbab 5.1.
GAMBAR 5.2 Anatomi modul siswa
Diagram urutan bagian modul siswa dari petunjuk penggunaan sampai kunci dan umpan balik. Uraian lengkap ada pada uraian enam komponen di bawah gambar.
Uraian tiap komponen di bawah, termasuk contoh dan kesalahan khasnya, adalah rancangan penyusun.
Komponen 1: tujuan pembelajaran
Fungsi: memberi tahu siswa apa yang harus mampu dikerjakan setelah memakai modul.
Isi minimal: satu tujuan dengan tiga unsur, seperti pada Bab 4.
Contoh: "Setelah mempelajari modul ini, kamu mampu menyusun jurnal penyesuaian sewa dibayar di muka dan perlengkapan dari bukti transaksi Laundry Bersih."
Kesalahan khas: tujuan disalin dari capaian pembelajaran yang luas, sehingga siswa tidak tahu batas materinya.
Komponen 2: uraian materi
Fungsi: menjelaskan konsep yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
Isi minimal: konsep inti, istilah kunci, dan kedudukan topik dalam siklus akuntansi.
Contoh: penjelasan mengapa sewa yang dibayar di muka dicatat sebagai aset lebih dahulu.
Kesalahan khas: uraian terlalu panjang dan memuat materi yang tidak dibutuhkan tujuan.
Komponen 3: contoh kerja
Fungsi: memperagakan penyelesaian langkah demi langkah.
Isi minimal: data transaksi, perhitungan, jurnal, dan pengecekan, seperti dibahas pada Subbab 5.3.
Kesalahan khas: contoh langsung menampilkan jurnal tanpa memperlihatkan perhitungannya.
Komponen 4: latihan
Fungsi: memberi kesempatan mengerjakan sendiri.
Isi minimal: latihan dalam tiga tingkat, seperti dibahas pada Subbab 5.4.
Kesalahan khas: semua soal setara tingkat kesulitannya, sehingga tidak ada jenjang.
Komponen 5: rangkuman
Fungsi: mengikat kembali inti materi.
Isi minimal: tiga sampai lima butir yang menjawab tujuan.
Contoh: "Bagian sewa yang sudah terpakai dipindahkan dari aset ke beban."
Kesalahan khas: rangkuman mengulang seluruh uraian dengan kalimat yang sama.
Komponen 6: kunci beserta umpan balik
Fungsi: memberi tahu siswa apakah jawabannya benar dan di mana letak salahnya.
Isi minimal: jawaban dan alasan singkat untuk setiap soal.
Kesalahan khas: kunci hanya berupa angka akhir, sehingga siswa yang salah tidak tahu penyebabnya.
Contoh berjalan: petunjuk penggunaan modul Laundry Bersih
Isi petunjuk berikut rekaan untuk ilustrasi.
Yang kamu pelajari: jurnal penyesuaian sewa dibayar di muka dan perlengkapan.
Waktu: sekitar 45 menit.
Yang kamu kerjakan: baca uraian, pelajari dua contoh kerja, lalu kerjakan latihan dari tingkat 1 sampai tingkat 3.
Cara mengetahui jawabanmu benar: cocokkan dengan kunci di bagian akhir, dan baca alasannya bila jawabanmu berbeda.
Contoh kerja menampilkan penyelesaian langkah demi langkah beserta alasan tiap langkah. Bagi pemula, mempelajari contoh kerja lebih efektif daripada langsung memecahkan soal yang setara (Sweller dkk., 2019).
Empat unsur contoh kerja akuntansi
Setiap contoh kerja akuntansi pada Produk 1 memuat empat unsur, yaitu data transaksi, perhitungan, jurnal, dan pengecekan. Empat unsur ini adalah ketentuan mata kuliah.
Data transaksi: informasi dari bukti transaksi, misalnya tanggal, jumlah, dan jangka waktu.
Perhitungan: langkah menghitung jumlah yang disesuaikan.
Jurnal: akun yang didebit dan dikredit beserta jumlahnya.
Pengecekan: bukti bahwa hasilnya masuk akal, misalnya saldo akhir sama dengan sisa yang seharusnya.
Alasan di samping langkah
Setiap langkah disertai alasan singkat. Letakkan alasan itu langsung di samping langkahnya, bukan di catatan kaki atau halaman lain. Siswa terbebani bila harus memadukan sendiri dua sumber informasi yang terpisah (Sweller dkk., 2019).
Bantuan dikurangi bertahap
Bantuan lalu dikurangi seiring bertambahnya kemahiran siswa (Sweller dkk., 2019). Dalam modul, urutannya dapat berupa tiga bentuk:
contoh penuh;
contoh dengan satu langkah dikosongkan;
soal mandiri.
Bantuan yang menolong pemula dapat menjadi tidak berguna bagi pemelajar yang sudah mahir (Sweller dkk., 2019). Karena itu, siswa yang sudah lancar boleh langsung menuju soal mandiri. Tuliskan pilihan ini pada petunjuk penggunaan.
GAMBAR 5.3 Tangga pengurangan bantuan
Diagram tiga anak tangga pengurangan bantuan: contoh penuh, satu langkah dikosongkan, dan soal mandiri. Uraian lengkap ada di bawah gambar.
Tiga anak tangga naik dari kiri ke kanan. Anak tangga pertama, contoh penuh, menampilkan empat langkah yang semuanya terisi. Anak tangga kedua, satu langkah dikosongkan, menampilkan tiga langkah terisi dan satu langkah kosong. Anak tangga ketiga, soal mandiri, menampilkan empat langkah kosong. Di sampingnya ada jalur pintas bagi siswa yang sudah mahir.
Contoh berjalan: tiga penyesuaian Laundry Bersih
Contoh kerja 1, sewa dibayar di muka (contoh penuh). Pada 1 Oktober Laundry Bersih membayar sewa ruko Rp12.000.000 untuk 12 bulan dan mencatatnya sebagai Sewa Dibayar di Muka.
Sewa per bulan = Rp12.000.000 / 12 = Rp1.000.000.
Alasan: penyesuaian dihitung dari bagian waktu yang sudah lewat.
Sampai 31 Desember terpakai 3 bulan = Rp3.000.000.
Alasan: Oktober, November, dan Desember sudah berlalu.
Jurnal penyesuaian: Beban Sewa (Debit) Rp3.000.000 dan Sewa Dibayar di Muka (Kredit) Rp3.000.000.
Alasan: bagian yang sudah terpakai berpindah dari aset ke beban.
Pengecekan: saldo Sewa Dibayar di Muka menjadi Rp9.000.000 untuk 9 bulan tersisa.
Alasan: 9 × Rp1.000.000 = Rp9.000.000, sama dengan saldo setelah penyesuaian.
Contoh kerja 2, perlengkapan (satu langkah dikosongkan). Saldo Perlengkapan Rp2.500.000. Hasil hitung fisik 31 Desember Rp900.000.
Perlengkapan terpakai = Rp2.500.000 − Rp900.000 = Rp1.600.000.
Jurnal penyesuaian: (diisi siswa).
Pengecekan: saldo Perlengkapan menjadi Rp900.000, sama dengan hasil hitung fisik.
Soal 3, peralatan (soal mandiri). Laundry Bersih memiliki peralatan seharga Rp24.000.000 yang dibeli pada awal tahun. Umur manfaatnya 4 tahun, tanpa nilai sisa, dan disusutkan dengan metode garis lurus. Susunlah perhitungan, jurnal penyesuaian per 31 Desember, dan pengecekannya.
Kunci soal 3 diletakkan pada komponen kunci:
Penyusutan per tahun = Rp24.000.000 / 4 = Rp6.000.000.
Jurnal penyesuaian: Beban Penyusutan Peralatan (Debit) Rp6.000.000 dan Akumulasi Penyusutan Peralatan (Kredit) Rp6.000.000.
Pengecekan: nilai buku peralatan menjadi Rp18.000.000 untuk 3 tahun tersisa.
Contoh kerja menyajikan. Latihan membuat siswa mengerjakan sendiri. Latihan disusun dalam tiga tingkat. Pembagian ini adalah rancangan penyusun.
Tingkat 1: mengenali
Yang dikerjakan siswa: menentukan akun dan posisi debit atau kredit.
Contoh soal: "Pada penyesuaian sewa yang sudah terpakai, akun apa yang didebit dan akun apa yang dikredit?"
Kunci: Beban Sewa didebit, Sewa Dibayar di Muka dikredit. Alasan: bagian yang terpakai menjadi beban, sehingga aset berkurang.
Tingkat 2: menerapkan
Yang dikerjakan siswa: menghitung dan menjurnal dari data lengkap.
Contoh soal: "Laundry Bersih membayar asuransi Rp6.000.000 untuk 12 bulan pada 1 November. Susun jurnal penyesuaian per 31 Desember."
Kunci: asuransi per bulan Rp500.000, terpakai 2 bulan, sehingga Beban Asuransi (Debit) Rp1.000.000 dan Asuransi Dibayar di Muka (Kredit) Rp1.000.000. Alasan: November dan Desember sudah berlalu.
Tingkat 3: menganalisis
Yang dikerjakan siswa: menemukan dan memperbaiki jurnal yang keliru.
Contoh soal: "Seorang siswa menyusun jurnal penyesuaian sewa: Beban Sewa (Debit) Rp12.000.000 dan Sewa Dibayar di Muka (Kredit) Rp12.000.000. Temukan kesalahannya dan perbaiki."
Kunci: jumlahnya keliru. Yang terpakai hanya 3 bulan, yaitu Rp3.000.000. Alasan: seluruh sewa dicatat sebagai beban, padahal 9 bulan belum terpakai.
Memilih kesalahan untuk soal tingkat 3
Soal tingkat 3 paling berguna bila kesalahannya diambil dari data kesulitan belajar pada design brief (Bab 4). Soal di atas memakai kesulitan yang paling sering muncul pada telaah lembar jawaban. Dengan begitu siswa berlatih menghadapi kesalahan yang memang sering mereka buat.
Kunci yang memuat alasan
Kunci memuat jawaban dan alasan singkat. Kunci tanpa alasan hanya memberi tahu salah atau benar, sedangkan kunci dengan alasan memberi tahu letak kesalahannya. Makin kaya informasinya, makin besar pengaruh umpan balik terhadap hasil belajar (Wisniewski dkk., 2020).
Pola kunci yang disarankan penyusun:
jawaban yang benar;
alasan dalam satu kalimat;
untuk soal yang sering salah, satu kalimat tentang kesalahan yang biasa terjadi.
Contoh butir ketiga: "Bila jawabanmu Rp12.000.000, kamu menghitung seluruh masa sewa. Hitung hanya bulan yang sudah berlalu."
Urutan dan jumlah soal
Letakkan soal dari tingkat 1 ke tingkat 3, sesuai urutan pengurangan bantuan pada Subbab 5.3. Sediakan minimal satu soal untuk setiap tingkat. Jumlah pastinya mengikuti ketentuan Produk 1 pada Rubrik R-5.
Isi yang benar dapat gagal sampai ke siswa bila halaman sulit dibaca. Kaidah berikut adalah ketentuan mata kuliah untuk Produk 1. Cara menerapkannya adalah rancangan penyusun.
Kaidah keterbacaan
Kalimat pendek dan satu gagasan per paragraf. Bila satu paragraf memuat dua gagasan, pecah menjadi dua.
Istilah akun yang konsisten dari awal sampai akhir. Tetapkan satu nama, misalnya "Sewa Dibayar di Muka", lalu pakai nama itu di semua bagian. Sediakan glosarium bila ada istilah yang mirip.
Langkah ditulis bernomor. Nomor membantu siswa mengikuti urutan dan merujuk langkah tertentu saat bertanya.
Angka disajikan dalam tabel dengan format yang seragam. Tulis semua nominal dengan bentuk yang sama, misalnya "Rp3.000.000", dan ratakan kolom angka di sebelah kanan.
Kaidah tata letak
Judul berjenjang. Pakai gaya judul, bukan sekadar huruf tebal, seperti ketentuan aksesibilitas di Bab 3.
Ruang kosong yang cukup di antara bagian. Ruang kosong memisahkan kelompok informasi, sehingga siswa tahu di mana satu bagian berakhir.
Lima butir ceklis aksesibilitas pada Bab 3 terpenuhi. Termasuk ukuran huruf isi minimal 12 pt dan kontras yang memadai.
Dua prinsip dari Bab 2 yang berlaku pada halaman cetak
Kedekatan ruang. Letakkan tabel jurnal dan penjelasannya pada halaman yang sama. Siswa terbebani bila harus membalik halaman untuk memadukan keduanya (Sweller dkk., 2019).
Koherensi. Buang hiasan, gambar tempelan, dan bingkai yang tidak membawa informasi.
GAMBAR 5.5 Satu halaman modul sebelum dan sesudah ditata
Perbandingan satu halaman modul sebelum dan sesudah ditata ulang. Uraian lengkap ada di bawah gambar.
Halaman kiri, sebelum ditata, memuat paragraf padat tanpa judul berjenjang, hiasan bingkai, dan tabel jurnal yang terpotong ke halaman berikutnya. Halaman kanan, sesudah ditata, memuat judul dan subjudul berjenjang, paragraf pendek, langkah bernomor, dan tabel jurnal utuh yang berdampingan dengan penjelasannya.
Daftar periksa sebelum mencetak
Daftar berikut adalah alat bantu penyusun.
Apakah semua nama akun ditulis sama di seluruh modul?
Apakah setiap tabel jurnal utuh dan berada di halaman yang sama dengan penjelasannya?
Apakah semua nominal ditulis dengan format yang sama?
Apakah judul dan subjudul memakai gaya judul?
Apakah ada hiasan yang dapat dibuang tanpa mengurangi informasi?
Atkinson, R. K., Derry, S. J., Renkl, A., & Wortham, D. (2000). Learning from examples: Instructional principles from the worked examples research. Review of Educational Research, 70(2), 181–214. https://doi.org/10.3102/00346543070002181
Franklin, M., Graybeal, P., & Cooper, D. (2019). Principles of accounting, volume 1: Financial accounting. OpenStax. https://openstax.org/books/principles-financial-accounting/pages/1-why-it-matters
Prastowo, A. (2013). Panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif. Diva Press.
Pribadi, R. B. A., & Putri, D. A. P. (2019). Pengembangan bahan ajar (Ed. 2). Universitas Terbuka.
Renkl, A. (2014). Toward an instructionally oriented theory of example-based learning. Cognitive Science, 38(1), 1–37. https://doi.org/10.1111/cogs.12086
Sweller, J., van Merriënboer, J. J. G., & Paas, F. (2019). Cognitive architecture and instructional design: 20 years later. Educational Psychology Review, 31(2), 261–292. https://doi.org/10.1007/s10648-019-09465-5
Wisniewski, B., Zierer, K., & Hattie, J. (2020). The power of feedback revisited: A meta-analysis of educational feedback research. Frontiers in Psychology, 10, Article 3087. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.03087