Bab 3. Universal Design for Leaning dan Aksesbilitas
Faisal R. Dongoran
Faisal R. Dongoran
Mengapa bab ini penting
Keragaman siswa adalah keadaan biasa di kelas. Bahan ajar yang sejak awal dirancang untuk keragaman itu dapat dipakai lebih banyak siswa dan mengurangi kebutuhan menambal belakangan.
Bayangkan satu kelas XI akuntansi yang sedang mempelajari jurnal penyesuaian. Contoh berikut adalah ilustrasi penyusun.
Sebagian siswa membuka bahan di ponsel di perjalanan pulang, sebagian di laboratorium komputer.
Sebagian sudah lancar menjurnal transaksi harian, sebagian masih ragu menentukan akun yang didebit.
Ada siswa yang lebih cepat paham lewat peragaan, ada yang lebih nyaman membaca contoh tertulis.
Ada siswa yang menonton video tanpa suara karena berada di tempat umum, dan mungkin ada siswa dengan hambatan pendengaran atau penglihatan.
Keragaman seperti ini adalah keadaan biasa di kelas. Bahan ajar yang sejak awal dirancang untuk keragaman itu dapat dipakai lebih banyak siswa dan mengurangi kebutuhan menambal belakangan.
Apa itu UDL
Universal Design for Learning (UDL) adalah kerangka perancangan yang dikembangkan CAST. Titik tolaknya, variasi cara belajar siswa dapat diperkirakan, sehingga perlu diperhitungkan sejak perancangan (Meyer dkk., 2014).
Tujuan yang dinyatakan pada pedoman versi 3.0 adalah kemandirian pemelajar (learner agency) (CAST, 2024). Pedoman itu merinci kemandirian tersebut menjadi tiga sisi, yaitu pemelajar yang bertujuan dan reflektif, berdaya dan autentik, serta strategis dan berorientasi tindakan. Padanan bahasa Indonesia ini adalah terjemahan penyusun.
Merancang di awal, bukan menambal di akhir
Perbandingan berikut adalah penalaran penyusun.
Menambal di akhir. Tim membuat video tanpa takarir. Setelah ada siswa yang tidak dapat mengikutinya, takarir dibuat terpisah, padahal naskahnya sudah hilang dan durasinya harus didengar ulang.
Merancang di awal. Takarir disusun dari naskah sejak tahap desain, seperti dibahas di Bab 9. Biayanya jauh lebih kecil, dan semua siswa mendapat manfaat, termasuk yang menonton tanpa suara.
Dua salah paham tentang UDL
UDL bukan membuat versi berbeda untuk setiap siswa. UDL menyediakan pilihan di dalam satu rancangan, sehingga siswa memilih jalan yang cocok tanpa guru harus membuat bahan terpisah.
UDL bukan menurunkan tuntutan. Tujuan pembelajaran tetap sama untuk semua siswa. Yang dibuat beragam adalah jalan untuk mencapainya.
UDL dan aksesibilitas
Dalam mata kuliah ini, kedua istilah dibedakan sebagai berikut.
Aksesibilitas memastikan bahan dapat dijangkau, misalnya teks dapat dibaca dan video dapat diikuti tanpa suara.
UDL lebih luas. Selain akses, UDL juga mengatur cara siswa terlibat dan cara siswa menunjukkan penguasaannya.
Ceklis pada Subbab 3.4 adalah syarat minimal aksesibilitas. Subbab 3.2 dan 3.3 membahas UDL yang lebih luas.
Pedoman UDL versi 3.0 memuat tiga prinsip. Tiap prinsip memiliki tiga pedoman, dan tiap pedoman dirinci menjadi beberapa butir pertimbangan (CAST, 2024). Padanan bahasa Indonesia di bawah adalah terjemahan penyusun, sedangkan nama aslinya ditulis dalam kurung.
GAMBAR 3.2 Tiga prinsip UDL dan pedomannya
Diagram tiga prinsip UDL beserta tiga pedoman pada masing-masing prinsip. Uraian lengkap ada pada teks di bawah gambar.
Tiga kolom berdampingan. Kolom keterlibatan memuat pedoman minat dan identitas, upaya dan ketekunan, serta kapasitas emosi. Kolom representasi memuat persepsi, bahasa dan simbol, serta membangun pengetahuan. Kolom aksi dan ekspresi memuat interaksi, ekspresi dan komunikasi, serta pengembangan strategi.
Prinsip 1: merancang beragam cara keterlibatan (Design Multiple Means of Engagement)
Prinsip ini menjawab mengapa siswa belajar. Pedomannya adalah minat dan identitas (Welcoming Interests & Identities), upaya dan ketekunan (Sustaining Effort & Persistence), serta kapasitas emosi (Emotional Capacity).
Tiga butir pertimbangan dan penerapannya pada akuntansi:
Mengoptimalkan relevansi, nilai, dan keautentikan (butir 7.2). Kasus diambil dari usaha yang dikenal siswa, seperti laundry atau koperasi sekolah.
Mengoptimalkan tantangan dan dukungan (butir 8.2). Latihan disusun berjenjang dari mengenali akun sampai memperbaiki jurnal yang keliru.
Memberi umpan balik yang berorientasi tindakan (butir 8.5). Pesan umpan balik menunjukkan langkah perbaikan, bukan hanya "salah".
Prinsip 2: merancang beragam cara representasi (Design Multiple Means of Representation)
Prinsip ini menjawab apa yang dipelajari dan bagaimana disajikan. Pedomannya adalah persepsi (Perception), bahasa dan simbol (Language & Symbols), serta membangun pengetahuan (Building Knowledge).
Tiga butir pertimbangan dan penerapannya:
Memberi kesempatan menyesuaikan tampilan informasi (butir 1.1). Bahan digital dapat diperbesar tanpa merusak tata letak.
Memperjelas kosakata, simbol, dan struktur bahasa (butir 2.1). Singkatan seperti D dan K, atau nama akun yang mirip, dijelaskan dalam glosarium.
Menghubungkan pengetahuan awal dengan pembelajaran baru (butir 3.1). Jurnal penyesuaian dikaitkan lebih dahulu dengan jurnal transaksi harian yang sudah dikuasai.
Prinsip 3: merancang beragam cara aksi dan ekspresi (Design Multiple Means of Action & Expression)
Prinsip ini menjawab bagaimana siswa menunjukkan penguasaannya. Pedomannya adalah interaksi (Interaction), ekspresi dan komunikasi (Expression & Communication), serta pengembangan strategi (Strategy Development).
Tiga butir pertimbangan dan penerapannya:
Memakai beragam media untuk berkomunikasi (butir 5.1). Siswa boleh mengerjakan jurnal di lembar cetak atau di spreadsheet.
Membangun kelancaran dengan dukungan bertahap (butir 5.3). Format jurnal siap isi diberikan pada latihan awal, lalu dikurangi.
Meningkatkan kemampuan memantau kemajuan (butir 6.4). Lembar kerja menampilkan jumlah soal yang sudah benar.
Prinsip UDL baru berguna bila diterjemahkan menjadi keputusan yang dapat dikerjakan. Pilihan tidak mengubah tujuan pembelajaran. Yang beragam adalah jalannya.
GAMBAR 3.1 Satu tujuan, beragam jalan
Diagram satu tujuan pembelajaran yang dicapai melalui tiga jalan berbeda. Uraian lengkap ada di bawah gambar.
Di puncak diagram ada tujuan "Menyusun jurnal penyesuaian sewa". Tiga jalan menuju tujuan itu: membaca contoh kerja di modul, menonton video contoh kerja bertakarir, dan berlatih di spreadsheet dengan umpan balik. Ketiga jalan berakhir di tujuan yang sama.
Lima langkah menerjemahkan prinsip
Langkah berikut adalah prosedur kerja penyusun.
Tetapkan tujuan yang tidak berubah. Contoh: menyusun jurnal penyesuaian sewa dibayar di muka.
Kenali hambatan yang mungkin muncul. Pakai profil peserta didik dari design brief (Bab 4): perangkat, bekal awal, istilah yang belum dikenal, dan cara siswa menunjukkan hasil kerja.
Pilih butir pedoman yang menjawab hambatan itu. Gunakan daftar pada Subbab 3.2.
Tuangkan menjadi keputusan konkret. Tulis apa yang dibuat, di bagian mana, dan dalam bentuk apa.
Periksa ulang tujuannya. Pastikan setiap pilihan tetap menuntut siswa mencapai tujuan yang sama.
Contoh keputusan desain untuk Laundry Bersih
Contoh berikut menghubungkan butir pedoman (CAST, 2024) dengan keputusan pada bahan ajar akuntansi.
Representasi:
memperjelas kosakata dan simbol (butir 2.1), misalnya glosarium nama akun seperti "Sewa Dibayar di Muka" dan "Beban Sewa";
mengilustrasikan lewat beragam media (butir 2.5), misalnya uraian teks, contoh kerja, dan video untuk langkah menghitung tiga bulan sewa.
Aksi dan ekspresi:
memakai beragam media untuk berkomunikasi (butir 5.1), misalnya pilihan mengerjakan di lembar cetak atau spreadsheet;
memberi dukungan yang dikurangi bertahap (butir 5.3), misalnya format jurnal siap isi pada latihan awal.
Keterlibatan:
mengoptimalkan relevansi (butir 7.2), misalnya kasus usaha yang dekat dengan siswa;
mengoptimalkan tantangan dan dukungan (butir 8.2), misalnya latihan berjenjang;
memberi umpan balik yang berorientasi tindakan (butir 8.5), misalnya pesan "hitung hanya bulan yang sudah terpakai".
Pilihan berdasarkan data, bukan sebanyak-banyaknya
Tidak semua pilihan harus disediakan. Pilihan yang terlalu banyak dapat membingungkan dan menyita waktu tim. Mulailah dari hambatan yang paling sering muncul menurut data profil peserta didik. Bila sebagian besar siswa memakai ponsel, misalnya, prioritasnya adalah tata letak satu kolom dan teks yang dapat diperbesar.
Mata kuliah ini memakai lima butir ceklis (INS-03). Empat di antaranya berpadanan dengan kriteria sukses pada WCAG 2.2 (Campbell dkk., 2024). WCAG disusun untuk konten web. Penerapannya pada bahan ajar cetak dalam mata kuliah ini adalah perluasan oleh penyusun.
Cara memeriksa dan kesalahan khas pada tiap butir adalah rancangan penyusun.
Butir 1: kontras warna
Ketentuan: rasio kontras teks terhadap latar minimal 4,5:1 untuk teks biasa (kriteria 1.4.3, tingkat AA). Teks berukuran besar cukup 3:1.
Cara memeriksa: masukkan kode warna teks dan latar ke alat pemeriksa kontras.
Kesalahan khas: nama akun ditulis abu-abu muda di atas putih, atau teks putih di atas oranye terang.
Butir 2: ukuran huruf
Ketentuan: teks isi minimal 12 pt pada cetak dan setara 16 px pada layar. Angka ini ketentuan mata kuliah, karena WCAG tidak menetapkan ukuran huruf minimum. WCAG mensyaratkan teks dapat diperbesar sampai 200 persen tanpa kehilangan isi atau fungsi (kriteria 1.4.4).
Cara memeriksa: perbesar tampilan bahan digital menjadi 200 persen, lalu periksa apakah ada teks yang terpotong atau tertumpuk.
Kesalahan khas: tabel jurnal diunggah sebagai gambar, sehingga angkanya pecah saat diperbesar.
Butir 3: teks alternatif
Ketentuan: setiap gambar bermakna memiliki teks alternatif yang setara tujuannya (kriteria 1.1.1, tingkat A).
Cara menulis: sebutkan informasi yang disampaikan gambar, bukan sekadar wujudnya. Untuk gambar kompleks seperti infografik, W3C Web Accessibility Initiative (2026) menganjurkan dua bagian, yaitu deskripsi singkat dan deskripsi panjang. Cara ini dibahas lebih rinci di Bab 7.
Kesalahan khas: teks alternatif berbunyi "gambar kuitansi", padahal yang dibutuhkan siswa adalah tanggal, jumlah, dan jangka waktunya.
Butir 4: takarir
Ketentuan: video bernarasi memiliki takarir (kriteria 1.2.2, tingkat A). Takarir adalah versi teks dari ucapan dan informasi bunyi lain yang diperlukan untuk memahami isi (W3C Web Accessibility Initiative, 2024).
Cara memeriksa: tonton video tanpa suara dari awal sampai akhir.
Kesalahan khas: takarir otomatis dibiarkan tanpa disunting, sehingga nama akun dan angka keliru. Takarir otomatis biasanya memerlukan banyak penyuntingan (W3C Web Accessibility Initiative, 2024).
Butir 5: struktur judul
Ketentuan: judul dan subjudul memakai gaya berjenjang, bukan sekadar huruf tebal (kriteria 1.3.1). Judul juga harus menggambarkan topik atau tujuan bagiannya (kriteria 2.4.6).
Cara memeriksa: buka panel kerangka dokumen. Bila judul tidak muncul di sana, gaya judulnya belum dipakai.
Kesalahan khas: subjudul dibuat dengan huruf tebal dan ukuran besar, tetapi tetap bergaya teks biasa.
Satu ketentuan yang menyertai kelima butir
Warna tidak boleh menjadi satu-satunya penanda informasi (kriteria 1.4.1, tingkat A). Pada bahan akuntansi, aturan ini paling sering dilanggar ketika debit dan kredit hanya dibedakan dengan warna.
GAMBAR 3.4 Tabel jurnal sebelum dan sesudah diperbaiki
Perbandingan tabel jurnal penyesuaian sebelum dan sesudah diperbaiki agar aksesibel. Uraian lengkap ada di bawah gambar.
Tabel kiri, sebelum perbaikan, membedakan debit dan kredit hanya dengan warna hijau dan merah, dengan nama akun abu-abu muda. Tabel kanan, sesudah perbaikan, memiliki judul kolom Akun, Debit, dan Kredit, nama akun yang dikredit ditulis menjorok, dan seluruh teks berwarna hitam.
Audit aksesibilitas baru berguna bila menghasilkan perbaikan. Perbaikan baru terjadi bila rekomendasinya dapat langsung dikerjakan.
Tiga unsur rekomendasi
Rekomendasi yang baik menyebut tiga hal, yaitu bagian yang diperbaiki, cara memperbaikinya, dan prinsip yang dirujuk.
Lemah: "Perbaiki tampilan."
Kuat: "Pada tabel jurnal halaman 4, tambahkan judul kolom Debit dan Kredit, karena warna tidak boleh menjadi satu-satunya penanda (WCAG 1.4.1)."
GAMBAR 3.5 Anatomi rekomendasi yang dapat dikerjakan
Diagram tiga unsur rekomendasi: bagian, cara, dan prinsip. Uraian lengkap ada di bawah gambar.
Satu kalimat rekomendasi dipecah menjadi tiga bagian berwarna. Bagian pertama, "Pada tabel jurnal halaman 4", ditandai sebagai bagian. Bagian kedua, "tambahkan judul kolom Debit dan Kredit", ditandai sebagai cara. Bagian ketiga, "WCAG 1.4.1", ditandai sebagai prinsip.
Tiga ciri tambahan
Tiga ciri berikut adalah ketentuan kerja penyusun.
Satu rekomendasi, satu perubahan. Rekomendasi yang memuat empat perubahan sekaligus sulit dicentang selesai.
Dapat diperiksa. Orang lain harus dapat menilai apakah rekomendasi sudah dikerjakan atau belum.
Diurutkan menurut dampak. Dahulukan perbaikan yang menghalangi akses, seperti takarir, teks alternatif, dan kontras. Perbaikan yang memperkaya, seperti glosarium tambahan, menyusul kemudian.
Contoh berjalan: audit handout Laundry Bersih
Tiga pasang rekomendasi dari audit handout jurnal penyesuaian Laundry Bersih:
Lemah: "Warnanya kurang jelas."
Kuat: "Pada seluruh tabel jurnal, ganti warna nama akun dari abu-abu muda menjadi hitam agar kontras minimal 4,5:1 terpenuhi (WCAG 1.4.3)."
Lemah: "Gambarnya perlu keterangan."
Kuat: "Pada gambar kuitansi halaman 2, tambahkan teks alternatif yang menyebut tanggal 1 Oktober, jumlah Rp12.000.000, dan jangka waktu 12 bulan (WCAG 1.1.1)."
Lemah: "Judulnya berantakan."
Kuat: "Pada subjudul 'Langkah Menghitung' dan 'Jurnal Penyesuaian', ganti format huruf tebal dengan gaya judul tingkat 2 (WCAG 1.3.1)."
Rekomendasi pertama didahulukan karena menyangkut keterbacaan seluruh tabel.
Kaitan dengan T-2
T-2 meminta minimal tiga rekomendasi. Rekomendasi yang memenuhi tiga unsur dan tiga ciri di atas memudahkan tim lain menindaklanjutinya.
Campbell, A., Adams, C., Montgomery, R. B., Cooper, M., & Kirkpatrick, A. (Eds.). (2024). Web Content Accessibility Guidelines (WCAG) 2.2 (W3C Recommendation). World Wide Web Consortium. https://www.w3.org/TR/WCAG22/
CAST. (2024). CAST Universal Design for Learning Guidelines version 3.0. https://udlguidelines.cast.org
King-Sears, M. E., Stefanidis, A., Evmenova, A. S., Rao, K., Mergen, R. L., Owen, L. S., & Strimel, M. M. (2023). Achievement of learners receiving UDL instruction: A meta-analysis. Teaching and Teacher Education, 122, Article 103956. https://doi.org/10.1016/j.tate.2022.103956
Meyer, A., Rose, D. H., & Gordon, D. (2014). Universal design for learning: Theory and practice. CAST Professional Publishing.
W3C Web Accessibility Initiative. (2024, September 17). Making audio and video media accessible. https://www.w3.org/WAI/media/av/
W3C Web Accessibility Initiative. (2026, April 8). Complex images. https://www.w3.org/WAI/tutorials/images/complex/