Bab 2. Desain Instruksional, Beban Kognitif, dan Prinsip Multimedia
Faisal R. Dongoran
Faisal R. Dongoran
Mengapa bab ini penting
Media yang ramai belum tentu membantu belajar. Memori kerja siswa terbatas, sehingga setiap unsur yang tidak perlu mengambil tempat unsur yang perlu. Bab ini memberi kerangka kerja proyek (ADDIE) dan bahasa yang tepat untuk menilai media (prinsip multimedia).
Membuat media pembelajaran adalah sebuah proyek. Proyek membutuhkan urutan kerja agar setiap keputusan memiliki dasar. Mata kuliah ini memakai ADDIE sebagai urutan kerja itu.
Apa itu ADDIE
ADDIE memuat lima tahap, yaitu Analyze, Design, Develop, Implement, dan Evaluate (Branch, 2009).
Satu hal perlu diketahui sejak awal. Molenda (2015) menelusuri asal-usul nama ADDIE dan tidak menemukan satu sumber asli yang berwenang. Menurutnya, ADDIE adalah istilah umum untuk sekelompok model pengembangan pembelajaran yang sistematis, bukan satu model baku. Ia juga menegaskan bahwa tahap-tahapnya berurutan sekaligus berulang (Molenda, 2015).
Artinya, ADDIE sebaiknya dipakai sebagai kerangka berpikir, bukan resep yang harus diikuti secara kaku.
Lima tahap dan pertanyaan kuncinya
Pertanyaan kunci dan luaran berikut adalah rancangan penyusun untuk mata kuliah ini.
Analisis. Pertanyaan kunci: kesulitan belajar apa yang ingin diatasi, dan apa buktinya? Luaran: bagian analisis pada design brief (Minggu 5).
Desain. Pertanyaan kunci: tujuan apa yang dilayani, strategi apa yang dipakai, dan bagaimana keberhasilannya diukur? Luaran: spesifikasi produk pada design brief dan storyboard video (Minggu 5 dan 10).
Pengembangan. Pertanyaan kunci: apakah produk sudah dibuat sesuai rancangan dan sudah direvisi? Luaran: empat produk (Minggu 6 s.d. 13).
Implementasi. Pertanyaan kunci: bagaimana produk bekerja ketika dipakai pengguna sasaran? Luaran: uji coba terbatas (Minggu 14).
Evaluasi. Pertanyaan kunci: apa yang perlu diperbaiki, dan apa datanya? Luaran: laporan evaluasi produk (Minggu 14).
Berurutan sekaligus berulang
Evaluasi tidak menunggu akhir semester. Klinik produk pada Minggu 6 adalah evaluasi kecil di tengah pengembangan. Telaah sejawat storyboard pada Minggu 10 adalah evaluasi sebelum video direkam. Setiap temuan dapat membawa tim kembali ke tahap sebelumnya.
GAMBAR 2.1 ADDIE dalam proyek satu semester
Diagram lima tahap ADDIE yang dipetakan ke minggu perkuliahan. Uraian lengkap ada di bawah gambar.
Lima tahap tersusun dari kiri ke kanan: Analisis dan Desain pada Minggu 5, Pengembangan pada Minggu 6 s.d. 13, Implementasi pada Minggu 14, dan Evaluasi pada Minggu 14. Panah balik dari Evaluasi menuju setiap tahap sebelumnya menunjukkan bahwa revisi dapat terjadi di tahap mana pun.
Contoh berjalan: satu video melewati lima tahap
Analisis: telaah lembar jawaban menunjukkan siswa menjurnal seluruh sewa Rp12.000.000 sebagai beban.
Desain: tim menetapkan tujuan menyusun jurnal penyesuaian sewa, lalu menulis storyboard video 6 menit.
Pengembangan: video direkam per segmen dan disunting.
Implementasi: video ditonton lima siswa.
Evaluasi: tiga dari lima siswa menyatakan angka terlalu kecil di ponsel, sehingga tim kembali ke tahap pengembangan dan merekam ulang segmen 2.
Angka pada contoh ini rekaan untuk ilustrasi.
Dua kekeliruan yang sering terjadi
Langsung ke pengembangan. Tim membuat video yang menarik sebelum tahu kesulitan siswa. Hasilnya rapi, tetapi tidak menjawab masalah.
Memperlakukan ADDIE sebagai garis lurus. Tim menganggap tahap yang sudah lewat tidak boleh disentuh lagi. Padahal revisi berdasarkan data justru inti dari tahap evaluasi.
Media yang bagus di mata pembuatnya dapat terasa berat bagi siswa. Teori beban kognitif menjelaskan penyebabnya. Teori ini berangkat dari keterbatasan memori kerja, yaitu tempat manusia mengolah informasi baru dan hanya mampu menampung sedikit unsur pada satu waktu (Sweller dkk., 2019).
Dua sumber beban
Sweller dkk. (2019) membedakan dua sumber beban.
Beban intrinsik ditentukan oleh kerumitan informasi dan pengetahuan orang yang mengolahnya. Jurnal penyesuaian berat bagi pemula, tetapi ringan bagi siswa yang sudah fasih menjurnal.
Beban ekstrinsik (extraneous) ditentukan oleh cara informasi disajikan. Beban ini dapat diubah dengan mengubah prosedur pembelajaran.
Keduanya bersama-sama mengisi memori kerja yang terbatas. Bila beban intrinsik materi sudah tinggi, ruang yang tersisa untuk gangguan penyajian menjadi sangat sempit.
Beban germane
Beban germane sering disebut sebagai jenis ketiga. Dalam rumusan terbaru, beban germane tidak menambah beban tersendiri. Fungsinya mengalihkan sumber daya memori kerja dari urusan ekstrinsik ke urusan intrinsik (Sweller dkk., 2019). Artinya, perancang tidak "menambah" beban germane. Perancang mengurangi gangguan agar perhatian siswa tertuju pada materi.
Interaktivitas unsur
Kerumitan materi bergantung pada interaktivitas unsur, yaitu seberapa banyak unsur yang harus diolah bersamaan (Sweller dkk., 2019). Bandingkan dua tugas berikut.
Interaktivitas rendah: menyebutkan nama akun yang termasuk aset. Setiap nama akun dapat dipelajari satu per satu.
Interaktivitas tinggi: menjurnal penyesuaian sewa. Siswa harus mengolah tanggal pembayaran, jangka waktu, jumlah, bagian yang terpakai, dua akun, dan posisi debit kredit sekaligus.
Pengetahuan siswa mengubah hitungan ini. Bagi siswa yang sudah mahir, langkah menghitung bagian sewa yang terpakai sudah menjadi satu kesatuan, sehingga unsur yang harus diolah lebih sedikit.
GAMBAR 2.2 Kapasitas memori kerja sebelum dan sesudah perbaikan
Perbandingan dua batang kapasitas memori kerja sebelum dan sesudah media diperbaiki. Uraian lengkap ada di bawah gambar.
Batang kiri, sebelum perbaikan, terisi beban intrinsik dan beban ekstrinsik yang besar sampai melewati batas kapasitas. Batang kanan, sesudah perbaikan, memuat beban intrinsik yang sama, tetapi beban ekstrinsiknya kecil, sehingga masih ada ruang untuk mengolah materi.
Enam temuan dan maknanya bagi media akuntansi
Sweller dkk. (2019) merangkum sejumlah temuan teori beban kognitif. Enam di antaranya, beserta penerapannya pada media akuntansi:
Contoh kerja. Mempelajari contoh penyelesaian lengkap lebih membantu pemula daripada langsung memecahkan soal. Penerapannya: sajikan contoh kerja penyesuaian sebelum latihan.
Perhatian terbelah. Siswa terbebani bila harus memadukan sendiri dua sumber informasi yang terpisah. Penerapannya: letakkan penjelasan langsung di samping baris jurnal yang dijelaskan.
Redundansi. Menyajikan informasi yang sama dua kali justru menurunkan hasil belajar. Penerapannya: jangan membacakan teks layar kata demi kata.
Modalitas. Penjelasan lisan yang menyertai gambar memanfaatkan saluran pendengaran dan penglihatan sekaligus. Penerapannya: jelaskan bagan siklus dengan narasi, bukan dengan paragraf panjang di samping bagan.
Pembalikan keahlian. Bantuan yang menolong pemula dapat menjadi tidak berguna bagi pemelajar yang sudah mahir. Penerapannya: sediakan jalur cepat bagi siswa yang sudah lancar.
Pengurangan bantuan. Bantuan sebaiknya dikurangi bertahap seiring bertambahnya kemahiran. Penerapannya: urutkan contoh penuh, contoh dengan satu langkah dikosongkan, lalu soal mandiri, seperti dibahas di Bab 5.
Teori beban kognitif menjelaskan mengapa memori kerja mudah penuh. Teori kognitif pembelajaran multimedia menjelaskan bagaimana kata dan gambar diolah di dalamnya. Teori ini dikembangkan Richard Mayer dan menjadi dasar prinsip-prinsip pada Subbab 2.4.
Tiga asumsi
Mayer (2024) mendasarkan teorinya pada tiga asumsi:
saluran ganda, yaitu manusia mengolah informasi verbal dan visual pada saluran terpisah yang saling berhubungan;
kapasitas terbatas, yaitu tiap saluran hanya mampu mengolah sedikit informasi pada satu waktu;
pemrosesan aktif, yaitu belajar bermakna terjadi bila pemelajar memilih informasi yang relevan, menatanya menjadi gambaran yang utuh, dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Asumsi ketiga memuat tiga kegiatan, yaitu memilih, menata, dan menghubungkan. Media yang baik membantu ketiganya, bukan hanya menampilkan informasi.
GAMBAR 2.3 Dua saluran dan tiga kegiatan belajar
Diagram dua saluran pengolahan informasi dan tiga kegiatan belajar. Uraian lengkap ada di bawah gambar.
Kata dan gambar dari media masuk melalui dua saluran, yaitu saluran verbal dan saluran visual. Di memori kerja, siswa memilih informasi yang relevan, lalu menatanya. Hasilnya dihubungkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa.
Tiga jenis pemrosesan dan tiga tugas perancang
Dari asumsi itu lahir tiga jenis pemrosesan dan tiga tugas perancang (Mayer, 2024).
Pemrosesan ekstrinsik tidak mendukung tujuan pembelajaran, sehingga harus ditekan. Contohnya, siswa sibuk mencari keterangan sebuah angka yang letaknya di halaman lain.
Pemrosesan esensial diperlukan untuk merepresentasikan materi di memori kerja, sehingga harus dikelola. Contohnya, siswa harus menangkap hubungan antara bagian sewa yang terpakai dan akun beban.
Pemrosesan generatif bertujuan memaknai materi, sehingga harus didorong. Contohnya, siswa menjelaskan dengan kata-katanya sendiri mengapa saldo Sewa Dibayar di Muka berkurang.
Pemrosesan ekstrinsik dan esensial berpadanan dengan beban ekstrinsik dan intrinsik pada Subbab 2.2. Kedua teori ini saling melengkapi.
Lima belas prinsip dalam tiga kelompok
Mayer (2024) merangkum 15 prinsip desain di bawah tiga tugas tersebut: lima prinsip untuk menekan pemrosesan ekstrinsik, empat untuk mengelola pemrosesan esensial, dan enam untuk mendorong pemrosesan generatif. Mata kuliah ini memakai sepuluh di antaranya.
Setiap prinsip memiliki kondisi batas, termasuk untuk siapa prinsip itu berlaku (Mayer, 2024). Karena itu prinsip dipakai sebagai alat menimbang, bukan aturan mutlak.
Sepuluh prinsip berikut menjadi alat analisis pada LKM-1 dan T-1. Rumusannya adalah parafrasa dari Mayer (2021). Contoh pelanggaran dan perbaikannya adalah rancangan penyusun.
Lima prinsip untuk menekan pemrosesan ekstrinsik
Koherensi. Siswa belajar lebih baik bila kata, gambar, dan suara yang tidak diperlukan dibuang (Mayer, 2024).
Pelanggaran: musik latar terdengar sepanjang narasi video.
Perbaikan: hapus musik selama narasi.
Sinyal. Tandai bagian yang penting.
Pelanggaran: seluruh tabel jurnal tampil dengan warna dan ukuran yang sama.
Perbaikan: sorot baris yang sedang dijelaskan.
Redundansi. Jangan menayangkan teks yang sama persis dengan narasi. Sweller dkk. (2019) melaporkan temuan yang sejalan pada teori beban kognitif.
Pelanggaran: satu paragraf di layar dibacakan kata demi kata.
Perbaikan: ganti paragraf dengan kata kunci dan angka.
Kedekatan ruang. Letakkan teks dekat dengan gambar yang dijelaskannya. Prinsip ini sejalan dengan temuan perhatian terbelah (Sweller dkk., 2019).
Pelanggaran: gambar kuitansi di halaman 3, penjelasannya di halaman 5.
Perbaikan: pasang penjelasan langsung di samping kuitansi.
Kedekatan waktu. Sajikan narasi bersamaan dengan gambar terkait.
Pelanggaran: narasi menjelaskan jurnal, tetapi layar masih menampilkan judul.
Perbaikan: tampilkan jurnal tepat saat narasi menyebutnya.
Tiga prinsip untuk mengelola pemrosesan esensial
Segmentasi. Pecah materi menjadi bagian pendek. Contoh yang diberikan Mayer (2024) adalah memecah video yang tak terputus menjadi segmen yang dapat dijalankan sesuai kecepatan siswa.
Pelanggaran: tiga penyesuaian disajikan dalam satu video 18 menit tanpa jeda.
Perbaikan: pecah menjadi tiga segmen.
Pra-latihan. Kenalkan istilah kunci lebih dahulu.
Pelanggaran: video langsung memakai istilah "akrual" dan "deferal" tanpa penjelasan.
Perbaikan: sediakan glosarium singkat sebelum video diputar.
Modalitas. Gambar dengan narasi lisan lebih baik daripada gambar dengan teks tertulis. Sweller dkk. (2019) menjelaskan bahwa cara ini memanfaatkan saluran pendengaran dan penglihatan sekaligus.
Pelanggaran: animasi siklus disertai paragraf panjang yang harus dibaca.
Perbaikan: ganti paragraf dengan narasi.
Dua prinsip lain
Multimedia. Siswa belajar lebih baik dari kata dan gambar daripada dari kata saja (Mayer, 2024).
Pelanggaran: alur siklus akuntansi hanya diuraikan dalam teks.
Perbaikan: tambahkan bagan alur.
Personalisasi. Siswa belajar lebih baik bila pengajar memakai bahasa percakapan daripada bahasa formal (Mayer, 2024).
Pelanggaran: narasi berbunyi "Selanjutnya dilakukan pencatatan penyesuaian".
Perbaikan: "Sekarang kita catat penyesuaiannya."
GAMBAR 2.4 Satu salindia, sebelum dan sesudah diperbaiki
Perbandingan salindia jurnal penyesuaian sebelum dan sesudah diperbaiki dengan prinsip multimedia. Uraian lengkap ada di bawah gambar.
Salindia kiri, sebelum perbaikan, memuat paragraf panjang, hiasan, dan tabel jurnal tanpa sorotan. Salindia kanan, sesudah perbaikan, hanya memuat judul, tabel jurnal dengan baris Beban Sewa disorot, dan satu baris kata kunci "3 bulan terpakai = Rp3.000.000".
Kapan prinsip paling berlaku
Prinsip ini paling kuat berlaku bagi pemula. Cara penyajian yang menolong pemula dapat menjadi tidak berguna bagi pemelajar yang sudah mahir (Sweller dkk., 2019). Saat menganalisis media, catat selalu siapa sasarannya.
Subbab ini mengubah prinsip menjadi prosedur kerja. Langkah berikut adalah prosedur mata kuliah untuk LKM-1 dan T-1. Target minimalnya lima prinsip berbukti.
Langkah 1: tetapkan tujuan dan sasaran
Tuliskan tujuan pembelajaran media dan siapa sasarannya. Tanpa tujuan, tidak ada dasar untuk menyebut suatu unsur relevan atau tidak. Tanpa sasaran, tidak ada dasar untuk menimbang kondisi batas prinsip.
Langkah 2: amati per bagian
Pecah media menjadi bagian sebelum diamati. Video dipecah per segmen atau per menit. Modul dipecah per halaman. Salindia dipecah per salindia. Amati video dua kali, sekali dengan suara dan sekali tanpa suara. Pengamatan tanpa suara memudahkan menemukan masalah pada teks layar dan sinyal visual.
Langkah 3: catat setiap temuan
Satu temuan dicatat dalam lima unsur:
prinsip yang diperiksa;
status, yaitu dipenuhi atau dilanggar;
bukti, yaitu tangkapan layar beserta nomor halaman atau penanda waktu;
dampak pada beban kognitif;
usulan perbaikan.
Satu catatan hanya memuat satu temuan. Hindari penilaian umum seperti "videonya kurang menarik", karena penilaian seperti itu tidak menunjuk prinsip mana pun.
Langkah 4: jelaskan dampaknya
Hubungkan setiap pelanggaran dengan jenis pemrosesan pada Subbab 2.3. Pertanyaan pemandunya: apakah pelanggaran ini menambah pemrosesan ekstrinsik, mempersulit pengelolaan materi, atau mengurangi dorongan untuk memaknai?
Langkah 5: usulkan perbaikan
Setiap pelanggaran diberi satu perbaikan yang dapat dikerjakan. Perbaikan yang baik menyebut bagian, cara, dan prinsipnya, seperti pola rekomendasi pada Bab 3. Prinsip yang dipenuhi juga dicatat, agar kekuatan media tidak ikut terbuang saat revisi.
Contoh berjalan: menganalisis video 18 menit
Video jurnal penyesuaian Laundry Bersih berdurasi 18 menit tanpa jeda. Tujuannya: siswa kelas XI menyusun jurnal penyesuaian sewa, perlengkapan, dan peralatan. Satu catatan temuan yang lengkap:
Prinsip: koherensi.
Status: dilanggar.
Bukti: menit 03:10 s.d. 04:00, musik latar terdengar bersamaan dengan narasi.
Dampak: menambah pemrosesan ekstrinsik, karena siswa harus memisahkan suara narasi dari musik.
Perbaikan: hapus musik selama narasi, dan pakai musik hanya pada pembuka bila perlu.
Tiga temuan lain dari video yang sama:
Segmentasi dilanggar: tiga penyesuaian disajikan tanpa jeda. Perbaikan: pecah menjadi tiga segmen.
Redundansi dilanggar: pada menit 07:30, teks satu layar dibacakan persis sama. Perbaikan: ganti dengan kata kunci dan angka.
Sinyal dipenuhi: sel yang sedang diisi selalu disorot. Pertahankan saat revisi.
GAMBAR 2.5 Peta temuan pada video 18 menit
Garis waktu video 18 menit dengan penanda temuan dan usulan pemecahan menjadi tiga segmen. Uraian lengkap ada di bawah gambar.
Garis waktu dari menit 0 sampai 18 memuat tiga penanda. Menit 03:10 s.d. 04:00 ditandai "koherensi dilanggar". Menit 07:30 ditandai "redundansi dilanggar". Seluruh garis ditandai "sinyal dipenuhi". Di bawahnya, garis yang sama dipecah menjadi tiga segmen: sewa, perlengkapan, dan peralatan.
Branch, R. M. (2009). Instructional design: The ADDIE approach. Springer. https://doi.org/10.1007/978-0-387-09506-6
Mayer, R. E. (2021). Multimedia learning (3rd ed.). Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/9781316941355
Mayer, R. E. (2024). The past, present, and future of the cognitive theory of multimedia learning. Educational Psychology Review, 36(1), Article 8. https://doi.org/10.1007/s10648-023-09842-1
Molenda, M. (2015). In search of the elusive ADDIE model. Performance Improvement, 54(2), 40–42. https://doi.org/10.1002/pfi.21461
Noetel, M., Griffith, S., Delaney, O., Harris, N. R., Sanders, T., Parker, P., del Pozo Cruz, B., & Lonsdale, C. (2022). Multimedia design for learning: An overview of reviews with meta-meta-analysis. Review of Educational Research, 92(3), 413–454. https://doi.org/10.3102/00346543211052329
Sweller, J., van Merriënboer, J. J. G., & Paas, F. (2019). Cognitive architecture and instructional design: 20 years later. Educational Psychology Review, 31(2), 261–292. https://doi.org/10.1007/s10648-019-09465-5